Usia Pilihan

1/19/2009
Bacaan hari ini: Filipi 4:2-8
Ayat mas hari ini: Filipi 4:8
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 11-13



Di sebuah kota hidup seorang wanita yang sudah sangat lanjut usianya, te­ta­pi ia masih sehat dan tetap berse­ma­ngat. Ia tinggal sendirian di rumahnya yang sederhana. Suaminya telah mening­gal du­nia belasan tahun lalu. Para pen­du­duk me­nge­­nalnya sebagai ibu yang murah se­nyum dan penuh perhatian kepada sia­pa sa­ja.

Suatu hari, tepat di usianya yang ke-87, seorang wartawan dari surat kabar lo­kal mewawancarainya, “Apa rahasia Ibu se­­hingga bisa tetap sehat dan berse­ma­ngat?” tanya si wartawan. Ibu itu menja­wab, “Saya berusaha selalu berpikir positif dan melakukan kegiatan-kegiatan positif”. “Kegiatan seperti apa, Bu?” tanya si war­ta­­wan lagi. “Misalnya setiap hari saya me­ra­wat tetangga saya, seorang wanita berusia 70 tahun, menyediakan ma­kanan untuknya, mengajaknya jalan-jalan sore, atau sekadar me­ne­maninya minum teh dan menyulam.”

Para ahli gerontologi, ilmu tentang warga usia lanjut, me­nga­ta­kan bahwa pada dasarnya setiap orang memiliki tiga jenis usia, yaitu usia kronologis, usia biologis, dan usia psikologis. Usia kronologis dan usia biologis itu alamiah, tidak bisa dielakkan. Sedangkan usia psi­­kologis tergantung pada pilihan kita sendiri. Kalau kita, seperti yang di­nasihatkan Paulus hari ini, memiliki hati yang selalu ber­su­kacita (ayat 4), hidup yang bersyukur (ayat 6), dan pikiran yang ter­arah pa­da hal-hal yang positif dan membangun (ayat 8), maka usia ps­i­­ko­lo­gis kita akan sehat. Selanjutnya, hal itu akan berdampak po­sitif terhadap hidup ke­seharian kita. Dan dengan demikian, kita juga bi­sa menjadikan hi­dup kita senantiasa berguna serta bermakna




USIA TUA BUKAN HALANGAN UnTUK BERKARYA KUNCINYA PADA HATI DAN PIKIRAN YANG SEHAT

Labels:

 
posted by Unknown at 4:32 AM, | 3 comments

Sahabat orang berdosa

1/17/2009
Bacaan hari ini: Matius 9:9-13
Ayat mas hari ini: Matius 9:12
Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 5-7


Suatu kali saya bertanya kepada seo­rang ibu, “Apakah Ibu yakin masuk sur­ga kelak?” Ibu itu menjawab, “Yakin sih. Ah, tapi kadang masih ragu juga.” Yakin tetapi ra­gu? Artinya masih tidak yakin. Lalu saya bertanya lagi, “Mengapa begitu, Bu?” Si ibu menjawab, “Saya ini masih banyak dosa, masih suka ber­bohong, masih suka ma­rah-marah ter­ha­dap suami saya. Po­kok­nya saya merasa tidak la­yak masuk sur­ga.”

Kerap kali perasaan dan kenyataan bah­­wa kita masih memiliki banyak dosa da­­pat membuat kita merasa enggan un­tuk datang kepada Tuhan. Na­mun, fir­man Tuhan hari ini memberikan sebuah kon­­­sep yang berbeda. Ketika Yesus te­ngah ber­kum­pul dan makan bersama pa­ra pemu­ngut cukai dan orang berdosa di rumah Matius, orang-orang Farisi yang ada di sekitar tempat itu mem­per­ta­nyakan apa yang dilakukan oleh Yesus. Akan tetapi, Yesus mem­berikan ja­wab­an yang hingga kini men­jadi pengharapan bagi semua orang ber­do­sa, yaitu bahwa Dia da­tang ke dunia untuk menjadi sahabat orang-orang yang ber­do­sa. Bu­kan untuk melakukan dosa ber­sama para pe­­mungut cukai, me­lain­kan untuk menghapuskan dosa-dosa me­re­ka.

Seandainya Anda adalah salah satu dari orang-orang berdosa yang diun­­dang untuk makan bersama Yesus di rumah Matius, res­pons apa yang akan Anda berikan? Menerima atau menolaknya ka­rena me­rasa tidak layak? Pilihan ada di tangan Anda. Anda mesti tahu bah­­wa Ye­­­sus ada­lah sahabat orang berdosa. Dia akan selalu me­ne­ri­ma orang ber­­do­sa; siapa pun yang mau datang kepada-Nya



TAKUTLAH UNTUK BERBUAT DOSA TETAPI JANGAN TAKUT MEMBAWA DOSA KEPADA KRISTUS

Labels:

 
posted by Unknown at 6:53 AM, | 1 comments

Saat Iman Goyah

1/09/2009
Bacaan hari ini: Kisah Para Rasul 7:54-60
Ayat mas hari ini: Kisah Para Rasul 5:41
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 27-29



Blandina adalah nama seorang perem­pu­an kristiani yang meninggal ka­re­na sebu­ah penganiayaan di Lyon, Pran­cis, pada tahun 177. Ia mengalami sik­sa­an be­gi­tu rupa, tetapi ia tetap mem­perta­hankan iman­nya kepada Tuhan Yesus. Sam­­pai-sam­pai, walaupun sang penyik­sa sudah ke­lelahan dan frustrasi menyik­sa­­nya, ia te­tap pada pendirian dan keya­kin­­an­nya.

Kematian Blandina ini mengikuti jejak ke­matian Stefanus, martir kristiani perta­ma yang kisahnya tercatat dalam Kisah Pa­­­ra Rasul 7. Saat itu penganiayaan ter­ha­­dap jemaat kristiani semakin nyata ter­ja­di. Aniaya itu di­mu­lai dengan ancaman kepada Rasul Petrus dan Rasul Yo­hanes da­­lam Kisah Para Rasul 4 dan 5. Kemu­dian disu­sul dengan hukuman mati bagi Stefa­nus. Namun, mereka semua rela dan bahkan ber­sukacita atas terja­di­nya pengania­ya­an tersebut (Kisah Para Rasul 5:41). Ini di­mung­kin­kan karena iman keyakinan mereka akan Yesus sangat te­guh. Ke­ya­kin­an ini dapat terbangun karena mereka sudah melihat sen­diri karya Tuhan Ye­sus dalam hidup mereka.

Dalam hidup kita sebagai orang percaya, ada masa-masa ke­ti­ka iman kita menjadi goyah. Pada saat itu kita mungkin mem­per­ta­nyakan ten­tang keberadaan Allah, tentang kasih-Nya, tentang ke­hi­dup­an, tentang ke­matian, tentang kebangkitan Yesus, dan se­ba­gai­nya. Di saat-saat de­mikian, mari kita mengenang kisah para martir kris­tiani di masa lalu seperti Stefanus dan Blan­dina. Mung­kinkah me­reka rela mati jikalau mereka tidak sung­guh-sungguh yakin bah­wa iman yang mereka miliki, dan juga kita miliki ini, sung­guh-sungguh be­nar?



KESETIAAN DAN PENGORBANAN PARA MARTIR KRISTIANI ADALAH SALAH SATU BUKTI KUAT TENTANG KEBENARAN IMAN KITA

Labels:

 
posted by Unknown at 3:09 AM, | 0 comments

Kacang lupa Kulitnya

1/07/2009
Bacaan hari ini: Ulangan 15:12-18
Ayat mas hari ini: Ulangan 15:15
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 20-22



Kacang lupa kulit adalah ungkapan ki­as­an untuk menyebut orang yang lu­pa akan masa lalunya dan menjadi som­bong. Misalnya, seorang gadis berasal da­­­ri desa, merantau ke kota, berhasil men­­­­ja­di artis terkenal, lalu sikap dan pe­ri­­­la­­kunya ber­ubah menjadi sok, jauh dari tata kra­ma. Ungkapan itu juga bisa dike­nakan pa­da orang yang tidak tahu ber­­te­ri­ma kasih, lu­pa akan jasa-jasa orang yang pernah me­­­­nolong dan membe­sar­kan­­nya. Seperti si Malin Kundang, tokoh dalam sa­lah satu ce­­rita rakyat dari Suma­tra Ba­rat. Malin Kun­­­dang adalah pe­mu­da yang me­raih ke­suk­­sesan di ran­tau, te­­tapi ke­mudian ia ti­dak mau meng­­a­kui ibu­­nya sen­diri, se­hing­ga di­ku­tuk men­jadi ba­­tu.

Tuhan sangat tidak berkenan dengan si­kap “kacang lupa kulit”. Itulah sebabnya berulang kali Dia meng­i­ngat­kan umat Israel tentang status mereka dulu, yaitu sebagai bu­dak-budak di Mesir, dan bahwa Tuhanlah yang telah mem­bebas­kan me­reka (a­yat 15). Tujuannya supaya mereka tetap me­ngan­dal­kan Tuhan, dan tidak berpaling kepada ilah-ilah lain. Sekaligus su­pa­ya mereka juga me­miliki empati dan kepekaan un­tuk membantu orang lain yang mem­butuhkan seperti mereka dulu (ayat 13,14).

Maka, baiklah kita terus mengingat karya kasih Tuhan dalam hi­­­dup kita, sehingga kita selalu terdorong untuk memakai segala yang ada pada kita untuk kemuliaan-Nya. Dan, baiklah kita juga ti­­­dak melupakan peran dan jasa orang lain dalam setiap kesuksesan yang kita raih, sehingga kita bisa tetap menunjukkan rasa terima ka­­sih kita ke­pada mereka. Bukan seperti kacang yang lupa pada ku­­litnya



KITA ADALAH ORANG BERUTANG KEPADA TUHAN DAN KEPADA ORANG-ORANG DI SEKITAR KITA

Labels:

 
posted by Unknown at 5:30 AM, | 0 comments

Sekedar Bertahan Hidup

1/05/2009
Bacaan hari ini: Kejadian 1:26-2:17
Ayat mas hari ini: Kejadian 2:15
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 12-15



Ada sebagian orang kristiani yang ber­pen­dapat bahwa pekerjaan yang di­ja­­lani sehari-hari sekadar untuk ber­tah­an hi­dup—tanpa ada makna spiri­tu­al. Me­­reka berpikir bahwa Tuhan lebih pe­du­li ke­pa­da doa, nyanyian, saat teduh, dan se­mua ke­giat­an rohani. Bagi mereka, pe­ker­ja­­an yang paling menyenangkan Tuhan ada­lah men­jadi pendeta atau misionaris. Akibat­nya, me­reka mengerjakan peker­jaan se­hari-ha­ri mereka dengan setengah ha­ti dan bah­kan kerap dihinggapi rasa ber­sa­lah.

Pemahaman ini tidak sejalan dengan a­pa yang terdapat dalam firman Tuhan ha­ri ini. Dikisahkan bahwa setelah Adam di­cip­takan, Allah memberinya tugas. Tu­gas ini bukanlah untuk berdoa, membaca Alkitab, menyanyikan pujian, atau kegiat­an rohani yang lain. Tu­gasnya adalah untuk mengusahakan dan me­me­lihara taman Eden (Kejadian 2:15). Bahkan salah satu tujuan Adam diciptakan adalah untuk berkarya dan mengelola seluruh cip­ta­an (Kejadian 1:28).

Untuk menjelaskan konsep ini, Martin Luther, seorang tokoh reformasi gereja abad ke-16, pernah berkata, “Meskipun aku tahu bahwa besok dunia akan kiamat, aku akan tetap menanam pohon a­pelku.” Inti kalimat ini adalah bahwa pekerjaan sehari-hari kita (seperti bertani, berdagang, mengurus keluarga, belajar, dan seba­gai­nya) memiliki makna spiritual yang sama dalamnya dengan ke­gi­atan-kegiatan rohani kita (seperti berdoa, bersaat teduh, maupun ke­bak­tian). Bekerja merupakan salah satu hal penting yang Tuhan ingin kita lakukan dalam hidup ini. Karena itu, sudah sepantasnya ki­ta memperlakukan dan mengerjakan pekerjaan kita sama seriusnya de­ngan kegiatan rohani kita



PEKERJAAN KITA SAMA PENTING DAN BERHARGANYA DENGAN KEGIATAN ROHANI KITA

Labels:

 
posted by Unknown at 4:19 AM, | 0 comments

40

1/02/2009
Bacaan hari ini: Kisah Para Rasul 1:1-5
Ayat mas hari ini: Kisah Para Rasul 1:3
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 3-5



Angka 40 kerap muncul di Alkitab. Mo­men-momen yang menentukan dalam hi­dup Musa sampai dengan saat ia me­ning­­gal ditandai dengan usia kelipatan 40. Sebelum masuk ke tanah Kanaan, umat Is­rael mengembara selama 40 tahun di pa­dang gurun. Setelah berpuasa 40 hari di gu­­run, Iblis datang untuk mencobai Yesus. Sesudah kebangkitan dan sebelum kenaik­an-Nya ke surga, Tuhan menam­pakkan diri kepada para murid selama 40 hari. A­da apa dengan angka 40 ini?

Rupanya angka ini senantiasa me­nan­dai masa persiapan sebelum da­tang­nya babak baru dalam kehidupan sese­orang, umat Tuhan, atau bahkan dunia ciptaan-Nya. Saat Yesus menam­pak­kan diri selama 40 hari kepada para murid-Nya, hal itu merupakan masa persiapan di mana kelak Yesus tidak akan lagi hadir di antara mereka dalam wujud fisik. Dia akan kembali surga. Dia akan hadir dalam wujud yang baru, yakni Pribadi Roh Kudus. Itulah yang menandai babak baru bagi pekabaran Injil ke seluruh dunia, melalui kemitraan antara Roh Yesus dengan “tubuh-Nya” (Gereja Tuhan). Jelas bahwa pada masa 40 hari itu, aktivitas begitu padat dengan pendi­dik­an yang disampaikan “berulang-ulang” kepada para murid demi mem­­per­siapkan datangnya babak baru tersebut.

Segala hal yang baik dalam kehidupan ini selalu memerlukan masa persiapan. Persiapan yang baik menentukan datangnya hasil yang baik. Semakin matang persiapan, semakin besar potensi sukses. Kalau Tuhan saja bekerja dengan persiapan, apalagi kita. Ma­rilah kita melakukan apa saja dengan persiapan yang memadai. Jangan asal-asalan atau seadanya. Jangan suka meremehkan. Per­si­ap­an itu penting.



DATANGNYA KEBERHASILAN MASA DEPAN DITENTUKAN JUGA OLEH PERSIAPAN MASA SEKARANG

Labels:

 
posted by Unknown at 6:47 AM, | 0 comments

Mewujudkan Resolusi

1/01/2009
Bacaan hari ini: Yakobus 4:13-17
Ayat mas hari ini: Roma 8:28
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 1-2



Menyusun resolusi adalah hal yang ke­rap dilakukan orang di awal tahun. Na­­mun, banyak orang begitu semangat me­nyusun resolusi agar menjadi “lebih ba­ik”, kemudian lupa ketika waktu berlalu. Ada banyak hal membuat kita sulit mewu­jud­kan resolusi. Akan tetapi, ada satu hal penting yang bisa menjadi pangkal kega­gal­an kita, yakni saat kita menyusun reso­lusi dengan pertanyaan yang salah, “Apa yang ingin saya capai tahun ini?” atau “A­pa yang ingin saya lakukan tahun ini?” Sebagai orang-orang yang menjadikan Ye­sus se­ba­gai Raja atas hidup ini, bukankah seharusnya kita mendasarkan resolusi pada perta­nya­an, “Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan tahun ini? Apa yang Engkau ingin agar saya capai tahun ini?” Ada dua alas­an mengapa kita harus melibatkan Tuhan dalam menyusun resolusi.

Pertama, Yakobus mengingatkan agar kita tidak melupakan Tuhan dalam perencanaan, karena kita tidak tahu apa yang akan ter­jadi besok (ayat 14). Yakobus menasihati supaya kita berkata, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu” (ayat 15). Hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi di se­panjang tahun ke depan. Namun, Tuhan akan memimpin kita untuk membuat keputusan yang tepat, saat kita membuat rencana bersa­ma-Nya. Kedua, kita mesti ingat bahwa tujuan utama hidup kita adalah men­jadi serupa dengan Kristus (Roma 8:29). Karena itu, fokus re­so­lusi kita seharusnya adalah menjadi apa yang Tuhan mau, bukan se­kadar menjadi lebih baik menurut ukuran manusia.

Mari membuat dan menjalani resolusi bersama Tuhan. Pegang­lah janji Tuhan, bahwa Dia akan “turut bekerja dalam segala se­su­atu” di sepanjang tahun ini


JANGAN KATAKAN KEPADA TUHAN APA YANG BAIK MENURUT KITA TANYAKAN KEPADA TUHAN APA YANG DIA PIKIR BAIK BAGI KITA

Labels:

 
posted by Unknown at 12:58 PM, | 0 comments

Allah yang berinisiatif

12/27/2008
Bacaan hari ini: Galatia 4:4-9
Ayat mas hari ini: Galatia 4:4,5
Bacaan Alkitab Setahun: Wahyu 5-8



Setelah 37 tahun bekerja di meja operasi, dokter Evan Kane sadar bahwa bius total berisiko tinggi. Menurutnya, pada operasi tertentu pasien cukup dibius lokal. Namun, praktik ini belum dikenal pada tahun 1921. Untuk membuktikan teorinya, dokter Kane mencari orang yang mau menjadi pasien percobaan, tetapi ia kesulitan. Tak seorang pun ingin tetap sadar ketika operasi tengah berlangsung dan merasakan sakit luar biasa. Akhirnya, dokter Kane berinisiatif—ia mengajukan diri untuk dioperasi, yaitu operasi usus buntu. Inilah operasi usus buntu pertama dengan bius lokal. Hasilnya sukses. Terobosan besar ini membuat operasi dengan bius lokal mulai dipakai di seluruh dunia dan meringankan derita pasien.

Untuk menyelesaikan sebuah masalah, kerap diperlukan sosok yang berani mengambil inisiatif. Dan, Allah yang kita sembah itu penuh inisiatif! Melihat manusia tak berdaya di bawah kuasa dosa, Dia tidak tinggal diam. Dia tak membiarkan manusia terus menjadi hamba ilah-ilah, yang akhirnya akan membuat manusia binasa. Karena tak seorang pun dapat menjadi penebus dosa, Allah berinisiatif mengutus Anak-Nya sendiri untuk lahir sebagai manusia dan menebus kita (ayat 4). Bahkan, Roh Anak-Nya pun diutus untuk tinggal dalam hati kita (ayat 6). Solusi total itu membuat manusia kini bisa bebas dari kuasa dosa dan mengabdi pada Allah.

Natal adalah saat untuk kita mensyukuri inisiatif Allah. Kehadiran-Nya di dunia telah membebaskan kita dari kebinasaan melalui karya penebusan Kristus. Karena itu, kita yang telah menerima anugerah tersebut mesti mengambil inisiatif untuk mengabdi hanya kepada Allah



SEBUAH INISIATIF MUNCUL BUKAN KARENA PAKSAAN MELAINKAN KARENA KASIH DAN KEPEDULIAN

Labels:

 
posted by Unknown at 7:02 AM, | 0 comments

Ulang Tahun Yesus

12/25/2008
Bacaan hari ini: Yesaya 9:1-6
Ayat mas hari ini: Yesaya 9:1Bacaan Alkitab Setahun: 2 Yohanes; 3 Yohanes; Yudas



Apakah Yesus lahir tanggal 25 Desember? Tidak! Kita membaca bahwa saat Yesus lahir, para gembala “menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam” (Lukas 2:8). Dan, para gembala menggembalakan domba di padang saat malam hari hanya pada musim panas. Padahal, Desember adalah musim dingin. Artinya, kelahiran Yesus pasti terjadi pada bulan-bulan musim panas, meski tak ada yang mengetahui waktunya secara pasti. Tanggal 25 Desember dijadikan hari Natal karena hari itu merupakan perayaan berbaliknya matahari ke belahan bumi utara. Di tengah musim dingin yang gelap, terang muncul; Yesus lahir sebagai Terang Dunia.

Natal bukan perayaan ulang tahun Yesus, melainkan perayaan datangnya Yesus ke dunia sebagai Sang Terang. Kelahiran-Nya membuka babak baru: dunia yang dikuasai kegelapan dosa kini melihat Terang yang besar. Di mana terang hadir, di situ tak ada lagi kegelapan. Apa akibatnya? Pertama, umat manusia dilepaskan dari belenggu dosa yang menekan dan menindas (ayat 3). Kedua, ada damai sejahtera yang mampu mengenyahkan perang dan perseteruan (ayat 4) serta ketidakadilan (ayat 6).

Dua ribu tahun sudah Yesus lahir. Mengapa penindasan, perang, dan ketidakadilan masih ada? Karena masih banyak orang belum membuka hati bagi Sang Terang. Manusia “melihat” Terang itu, tetapi tidak menyambut-Nya, sehingga hatinya masih dikuasai kegelapan. Tugas kita adalah memperkenalkan terang Kristus kepada sesama melalui tindakan kasih. Itulah inti perayaan Natal. Bukan sekadar menyalakan lilin atau pohon terang, melainkan hidup dalam terang dan membawa orang mengenal Sang Terang



KEGELAPAN HANYA BISA TERUSIR JIKA TERANG DIPERSILAKAN HADIR

Labels:

 
posted by Unknown at 7:17 AM, | 0 comments

Mukjizat Natal

12/24/2008
Bacaan hari ini: Lukas 2:8-20
Ayat mas hari ini: 2 Korintus 5:17
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Yohanes 1-5



Natal 2004 adalah natal pertama saya di China (ketika studi di sana). Natal pertama tanpa keluarga; tanpa pohon Natal; tanpa kebaktian Natal; tanpa kartu Natal; tanpa lagu Natal; bahkan tanpa libur natal! Namun, di tengah keadaan demikian, saya justru menemukan makna Natal yang sejati. Pada tanggal 24 Desembersahabat saya dibaptis; dan saya berkesempatan melihat sebuah hidup yang sungguh diubahkan oleh Kristus. Sejak sahabat saya menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi, ia telah banyak berubah—dari orang yang keras menjadi orang yang lembut hati; dari orang yang tak memiliki hubungan dengan Tuhan, menjadi orang yang bergaul erat dengan Dia.

Ketika itu barulah saya sadar bahwa inilah arti Natal. Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang-orang berdosa dan mengubah hidup mereka—menjadikan hidup yang tak berarti menjadi berarti. Demikian pula mukjizat Natal pertama yang dialami para gembala. Mereka hidup biasa-biasa saja, tetapi sebuah berita dari malaikat mengubahkan hidup mereka. “Telah lahir bagimu Juru Selamat” (ayat 11). Bukan bagi orang lain, tetapi bagimu. Mereka pun menemui bayi Yesus lalu pulang sambil memuji-muji Allah (ayat 20).

Natal tak akan berarti sebelum kita bertemu dengan Kristus. Dan, mukjizat natal adalah ketika seseorang tersesat dapat bertemu dengan Sang Juru Selamat—Juru Selamat yang lahir baginya. Sudahkah Anda mengalami Kristus lahir di hati Anda? Sudahkah Anda mengalami perubahan hidup karena-Nya? Jika belum, Dia rindu mela-kukannya hari ini



NATAL TERINDAH TERJADI KETIKA YESUS LAHIR DI HATI YANG HANCUR

Labels:

 
posted by Unknown at 1:55 AM, | 0 comments

Fokus Natal

12/23/2008
Bacaan hari ini: Matius 2:1-12
Ayat mas hari ini: Matius 2:11
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Petrus 1-3



Seorang ibu tengah menyusun daftar hadiah Natal buat para kerabat dan sahabat keluarga. Anaknya yang berumur tujuh tahun duduk di sampingnya dan asyik memerhatikan. “Nak, Ibu sudah menyusun daftar nama penerima hadiah Natal kita. Coba kamu lihat, apakah ada nama yang lupa Ibu tulis?” tanyanya. Si anak menyimak daftar nama yang ditulis ibunya dengan teliti. “Ibu lupa mencatumkan nama Yesus,” sahutnya kemudian.

Sebetulnya sangat ironis ketika Natal tidak lagi berfokus pada Kristus. Bukankah Natal adalah peringatan akan hari kedatangan-Nya? Sayangnya, yang kerap terjadi sekarang adalah orang-orang malah sibuk dengan kepentingan dan kesenangannya sendiri, sehingga pertanyaan yang muncul bukan, “Apa yang bisa aku berikan buat Sang Bayi Kudus?”, melainkan, “Hadiah apa yang akan aku dapat? Mau shopping ke mana? Bisnis apa lagi yang bisa aku garap?”. Fokusnya adalah “aku”, bukan Kristus.Di gereja pun demikian. Orang begitu sibuk dengan berbagai persiapan acara, hingga tidak jarang orang saling berkelahi. Kita lupa untuk duduk tenang dan bertanya, “Apakah memang ini yang Kristus inginkan sebagai peringatan atas kelahiran-Nya?” Tidak heran kalau kemudian Natal berlalu tanpa makna. Hanya sebuah rutinitas. Tidak mengubah atau memperbarui apa-apa.

Hari ini kita kembali membaca kisah para Majus. Mereka datang ke Betlehem dari negeri yang jauh; melewati berbagai rintangan dan bahaya; membawa hadiah-hadiah bermakna untuk Kristus. Fokus mereka adalah: menyembah Kristus, bukan menuruti keinginan atau kepentingan sendiri



NATAL HARUS BERFOKUS PADA KRISTUS SEBAB NATAL ADALAH PESTA-NYA, BUKAN PESTA KITA

Labels:

 
posted by Unknown at 5:20 AM, | 0 comments

Bangku Natal

12/22/2008
Bacaan hari ini: Roma 15:1-6
Ayat mas hari ini: Markus 10:45
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Petrus 1-5



Ketika saya tengah menempuh studi di China, seorang sahabat menceritakan sebuah pengalaman malam Natal di suatu gereja rumah. Sebelum Natal, pendeta di ge-reja itu mengingatkan jemaat untuk mengundang sebanyak mungkin keluarga dan teman yang belum percaya, agar hadir dalam kebaktian malam Natal. Saat Natal tiba, rumah tempat mereka mengadakan ibadah dibanjiri banyak orang. Sebagian besar dari mereka baru pertama kali beribadah di gereja. Karena banyak sekali yang datang, bangku yang tersedia tidak mencukupi. Tanpa perlu dikomando, beberapa jemaat yang melihat hal itu segera memberikan bangku mereka. Lalu mereka masuk ke kamar dan berdoa supaya orang yang duduk di bangku mereka mendengar Injil dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

Mendengar kisah itu, saya ingat kata Paulus dalam surat Filipi. Bahwa Kristus, sekalipun setara dengan Allah, rela mengosongkan diri-Nya (Filipi 2:7) ketika datang ke dunia ini. Dia merelakan hak yang sesungguhnya patut Dia nikmati. Dia tidak hendak dilayani, tetapi hendak melayani dan memberikan nyawa-Nya

Bagaimana dengan kita? Kerap kali Natal kita buat semegah dan semeriah mungkin demi kepuasan diri. Mungkin kita menyisihkan uang untuk kegiatan sosial, tetapi terkadang itu hanya embel-embel dan bukan inti acara Natal. Ini saatnya kita kembali ke berita Natal, yaitu meneladani Allah yang memberi. Merelakan hak-hak kita, agar orang lain dimudahkan untuk mengenal Tuhan. Kita dapat segera memulainya, bahkan dari hal kecil seperti berbagi bangku



ANTARKAN SESAMA UNTUK MENGENAL ALLAH LEWAT SEGALA CARA YANG DAPAT KITA UPAYAKAN

Labels:

 
posted by Unknown at 5:41 AM, | 0 comments

”Setrum” yang Menyenangka

12/19/2008
Bacaan hari ini: Lukas 1:39-45
Ayat mas hari ini: Lukas 1:44
Bacaan Alkitab Setahun: Ibrani 11-13



Kesedihan dan kegembiraan itu menular. Apabila Anda sedih, orang di sekitar Anda dapat merasakannya. Bahkan mereka bisa ikut sedih. Sebaliknya, jika Anda bergembira, suasana hati Anda akan memendar hangat, sehingga terasa oleh orang lain. Bahkan bisa menghangatkan hati mereka juga. Jadi bukan hanya penyakit, pengalaman rasa dalam diri manusia dapat menular. Lalu, bagaimana dengan pengalaman batin? Bisakah itu menular? Tentu saja! Bila batin seseorang damai, maka kedamaian itu akan memancar lembut di mata, wajah, dan seluruh tubuhnya. Siapa pun yang berhubungan dengannya, sedikit banyak akan “tersetrum” damainya.

Suatu ketika, Maria mengunjungi Elisabet untuk meneguhkan hatinya sehubungan dengan pernyataan malaikat Gabriel (ayat 36). Saat mereka berjumpa, Elisabet merasa-kan “setrum”—anak dalam rahimnya melonjak dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus (ayat 41). Bahkan ia dapat berkata, “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (ayat 43). Padahal Kitab Suci tidak mengatakan bahwa malaikat juga menyampaikan pesan itu kepada Elisabet!

Perjumpaan dengan Tuhan secara pribadi juga bisa terasa seperti “setrum” yang menyenangkan. Dan itu bisa Anda bagikan kepada dunia. Namun, tak usah merasa gagal bila tak ada orang yang menyatakannya, sebab hal ini memang tak menuntut pengakuan. Rasakan, hayati, dan nikmati setrum perjumpaan dengan Tuhan sebagai penguatan bagi diri Anda. Dan orang-orang yang murni hatinya, seperti Maria dan Elisabet, dengan sendirinya akan “saling setrum”. Semoga kita juga



ALLAH MENYALURKAN KEHANGATAN KASIH-NYA AGAR KITA MENERUSKANNYA KEPADA DUNIA

Labels:

 
posted by Unknown at 5:04 AM, | 0 comments

Inkarnasi, Sumber Inspira

12/18/2008
Bacaan hari ini: Filipi 2:1-11
Ayat mas hari ini: Filipi 2:7
Bacaan Alkitab Setahun: Ibrani 8-10


Apa kesamaan Fransiskus Asisi, Ibu Teresa, dan Romo Mangun? Salah satu hal yang paling menonjol dari ketiganya adalah mereka rela meninggalkan kenyamanan hidup untuk tinggal dan melayani orang-orang miskin; baik di Eropa berabad-abad yang lalu, di India, maupun di Indonesia. Kita percaya mereka melakukannya karena iman kepada Kristus. Kita pun percaya inspirasi mereka datang dari peristiwa dua ribu tahun lalu, pada suatu malam di Betlehem.

Malam itu, Allah Pencipta dan Penguasa semesta meninggalkan segala kemuliaan-Nya, berinkarnasi menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Bukan dalam rupa seorang raja, bangsawan, atau orang terhormat, melainkan sebagai anak dari sepasang wong cilik (rakyat jelata), yang bahkan tak sanggup menyewa tempat untuk melahirkan bayi dengan layak (Lukas 2:7). Paulus menggambarkan peristiwa ini dengan kalimat: “Dia mengosongkan diri-Nya” (ayat 6).

Peristiwa inkarnasi Allah menjadi manusia biasa memang patut dikagumi dan disyukuri. Namun tak hanya itu, peristiwa ini mesti menginspirasi dan menggerakkan kita untuk melayani orang lain, seperti ketiga tokoh di atas. Mereka bersedia keluar dari kenyamanan; untuk berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Ada begitu banyak orang di sekitar kita dan di dunia ini yang menderita; baik secara fisik, mental, atau spiritual. Mereka memerlukan makanan, pakaian, dan perawatan. Mereka perlu dihibur, ditemani, dan dikasihi. Terlebih mereka perlu mendengar Injil. Tuhan telah memulai. Kini giliran kita yang hidup pada zaman ini untuk meneruskannya



ALLAH TELAH MENELADANKAN PENGOSONGAN DIRI AGAR KITA PUN MENGOSONGKAN DIRI UNTUK MELAYANI

Labels:

 
posted by Unknown at 5:46 AM, | 0 comments

Obat dalam Luka

12/17/2008
Bacaan hari ini: 2 Korintus 1:3-11
Ayat mas hari ini: 2 Korintus 1:6
Bacaan Alkitab Setahun: Ibrani 5-7



Pernahkah Anda bertemu dengan orang yang memiliki ilmu kebal; yang tak mem-pan ditembus senjata tajam, bahkan peluru? Mungkin pernah. Namun, adakah orang yang kebal terhadap penderitaan? Selama punya rasa dan hati, orang tidak dapat kebal dari kesesakan hidup. Akan tetapi, penderitaan yang berat belum tentu “menggilas” manusia. Mari cermati pesan Paulus tentang hal ini.

Mengawali suratnya kepada jemaat di Korintus, Paulus berkata bahwa Allah telah menghiburnya dalam penderitaan. Ya, ia memang sedang harus menanggung keseng-saraan Kristus ketika surat ini ditulis (ayat 5). Namun, saat ia mengalami penderitaan berat, ada juga penghiburan yang besar. Bahkan penderitaan itu pada gilirannya justru menjadi penghiburan. Inilah pesannya; di tengah impitan beban hidup, kita mesti membuka hati untuk merasakan penguatan Allah. Dan ada satu kenyataan ilahi yang memampukan kita untuk menghadapi segala beban hidup, yakni bahwa Allah kita sungguh berkuasa, bahkan dapat membangkitkan orang mati (ayat 9). Hal ini terbukti melalui peristiwa kebangkitan Kristus. Dan itulah pengharapan Paulus.

Jika kita menghadapi beban hidup bersama-sama dengan Allah, maka sebuah “luka” pun dapat berubah menjadi “obat”. Bagaimana tidak? Penderitaan yang kita alami akan membuat kita memiliki pengalaman iman dengan Tuhan. Melalui hal itu, kita pun dikuatkan untuk tetap tegar di tengah badai. Dan pada gilirannya, orang yang kuat akan dapat meneguhkan orang lain. Bukan dengan penghiburan yang klise, tetapi penghiburan yang berdasarkan pengalaman nyata



PENDERITAAN BERAT YANG DIOLAH DENGAN TEPAT DAPAT MENJADI OBAT ROHANI YANG MANTAP

Labels:

 
posted by Unknown at 6:19 AM, | 0 comments

Kejutan

12/16/2008
Bacaan hari ini: 1 Samuel 17:40-50
Ayat mas hari ini: 1 Samuel 17:50
Bacaan Alkitab Setahun: Ibrani 1-4



Kejutan sesuatu yang tidak terduga; diduga tidak terjadi malah itu yang terjadi, disangka terjadi malah tidak terjadi. Dalam permainan sepak bola kejutan kerap terjadi; di mana kesebelasan yang semula dianggap lemah, tidak punya peluang menang, tetapi malah keluar sebagai pemenang. Salah satu contoh adalah ketika Piala Eropa tahun 2004. Sejak awal yang dijagokan menjadi juara adalah negara raksasa sepak bola macam Jerman, Italia, Prancis, dan Belanda. Namun, yang kemudian menjadi juara justru Yunani, negara yang sama sekali tidak diperhitungkan.

Peristiwa Daud mengalahkan Goliat juga kejutan. Betapa tidak, siapa yang men-duga si penjaga ternak, “anak ingusan”, sanggup mengalahkan prajurit profesional yang sangat ditakuti seperti Goliat. Namun itulah yang terjadi. Sejarah mencatat demikian. Kita bisa membayangkan ketika tubuh raksasa Goliat itu tumbang dihantam “ketapel” Daud, para prajurit kedua pihak yang menyaksikan hanya bisa melongo. Terhenyak dan terdiam.

Fenomena kejutan ini kiranya mengingatkan kita; kalau kita sedang berada “di atas angin”, hidup bergelimang sukses dan kejayaan, hati-hati, jangan lupa diri. Jangan takabur. Sebab bisa saja dalam sekejap semua itu amblas tak berbekas. Maka mawas diri itu penting. Bagaimana pun kita tetaplah makhluk yang terbatas. Sebaliknya, kalau kita berada “di bawah angin”, hidup kita terus berkubang kegagalan dan diremehkan, jangan putus asa, teruslah berusaha. Lakukan yang terbaik. Kejutan selalu bisa terjadi kapan saja, dan dengan cara apa saja. Seperti Daud ketika mengalahkan Goliat



Mawas dirilah di tengah kegembiraan dan jangan kecil hati di tengah kepedihan

Labels:

 
posted by Unknown at 6:33 AM, | 0 comments

Buah Ketekunan

12/15/2008
Bacaan hari ini: Yakobus 1:1-8
Ayat mas hari ini: Amsal 24:16
Bacaan Alkitab Setahun: Titus 1-3; Filemon 1


Pada tahun 1850-an, Levi Strauss mengadu nasib ke Kalifornia untuk menambang emas. Hasilnya tak seberapa banyak, tetapi ia tidak putus asa. Ia lantas mencari usaha sampingan dengan membuat bahan kain keras (jeans) untuk tenda atau penutup mobil. Teman kerjanya berkomentar: “Mengapa kamu tidak membuat celana dari bahan ini?” orang itu menjelaskan bahwa para penambang perlu celana dari bahan kain yang kuat. Strauss setuju. Ia pun membuat celana bagi para penambang emas. Hal ini menjadi langkah awal ia mendapatkan “emas”. Celana berbahan jeans itu disukai banyak orang, bahkan menjadi populer sampai ke seluruh dunia.

Dalam hidup ini, kita tidak dapat menghindari kegagalan, kesusahan, pencobaan, atau ujian. Namun, kita dapat menyikapinya secara berbeda. Jika disikapi dengan keputusasaan, masa sulit akan melumpuhkan semangat hidup. Membuat kita menjadi pecundang. Sebaliknya, jika disikapi dengan ketekunan, masa sulit bisa dianggap sebagai “suatu kebahagiaan” (ayat 2). Mengapa? Karena melaluinya kita ditempa menjadi lebih dewasa dan berpengalaman. Apakah ketekunan itu? Sikap pantang menyerah dan terus berusaha melakukan yang terbaik di saat terburuk. Ketekunan membentuk orang menjadi tahan banting; pandai melihat peluang di tengah penghalang. Dan, buahnya adalah keberhasilan.

Apakah Anda tengah melalui masa sulit? Kegagalan bisnis, keretakan hubungan, sakit-penyakit, sampai ujian iman. Apakah pencobaan dan kegagalan membuat Anda patah semangat atau pesimis? Ayo bangkit lagi! Mintalah hikmat kepada Tuhan agar bisa tetap bertahan



KEPUTUSASAAN MELUMPUHKAN KETEKUNAN MEMAMPUKAN

Labels:

 
posted by Unknown at 8:28 AM, | 0 comments

Melampaui Hukum

12/14/2008
Bacaan hari ini: Galatia 2:15-21
Ayat mas hari ini: Galatia 2:16
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Timotius 1-4


Saat sekolah, kita mungkin pernah dihukum karena melanggar aturan. Aturan me-mang diperlukan, tetapi juga mengandung bahaya, yakni jika diterapkan menjadi pemu-tlakan yang kaku. Jika hidup beriman hanya berisi aturan dan hukuman, dapatkah kita merasakan indahnya pengampunan dan cinta kasih?

Dalam Galatia 2:15-21, Paulus hendak meluruskan pemahaman yang keliru, yang memaksa orang kristiani non-Yahudi untuk menerima hukum Taurat sebagai syarat mengikut Yesus. Paulus menyatakan bahwa Taurat tidak dapat membenarkan orang. Sebaliknya, Taurat cenderung mengungkung dan membebani manusia karena tak mungkin mampu memenuhinya. Sementara itu, iman kepada Kristus justru membenarkan orang berdosa. Siapa pun dapat dibenarkan oleh karya Kristus (ayat 16). Lantas, ada yang mengatakan bahwa manusia boleh terus berkubang dalam dosa karena toh Kristus akan memberi pembenaran. Paulus menolak pendapat ini, sebab dibenarkan dalam iman berarti dijadikan benar, bukan dipersilakan berbuat yang tidak benar. Dan, siapa pun yang beriman mesti menunjukkan gaya hidup yang berpadanan dengan pembenaran yang telah ia terima dari Tuhan. Orang yang terus berbuat dosa berarti belum sungguh-sungguh memahami makna pembenaran. Ia hanya mau memetik manfaat dari Kristus, tetapi tak beriman kepada-Nya.

Beriman bukan sekadar ucapan mulut. Beriman adalah soal hidup yang nyata. Karena itu Paulus berkata: “Hidupku bukannya aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku”. Itulah sebabnya kita perlu menjaga hidup batin dan bersukacita senantiasa



BILA KRISTUS TELAH MEMERDEKAKAN JANGAN LAGI MENYENTUH BELENGGU YANG TELAH DILEPASKAN

Labels:

 
posted by Unknown at 10:18 AM, | 0 comments

Mengenali SuaraNya

12/12/2008
Bacaan hari ini: Yohanes 10:1-10
Ayat mas hari ini: Yohanes 10:4
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Timotius 1-3


Para murid sekolah di Inggris dilarang menyalakan nada dering telepon genggam di kelas. Namun, mereka tidak habis akal. Mereka memasang ringtone yang disebut “suara nyamuk”, yaitu nada dengan frekuensi tinggi yang tidak bisa didengar oleh telinga orang dewasa. Para guru pun tak bisa mendengar suaranya. Namun, para murid dapat mendengarnya, sehingga bisa berkirim SMS dengan leluasa. Rupanya setelah berusia 25 tahun ke atas, ada bulu-bulu halus di dalam telinga manusia yang menua atau rusak. Itu sebabnya telinga orang dewasa tak lagi dapat mendengar suara dengan frekuensi tinggi (di atas 16 KHz) seperti telinga anak-anak.

Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai gembala yang baik dan para murid adalah domba milik-Nya. Ada ikatan batin antara gembala dan domba. Gembala di Israel biasanya memberi nama tiap dombanya dan memanggil nama mereka dengan nada khas. Jika malam tiba, setelah semua domba masuk kandang, sang gembala tidur di pintu masuk. Ia menjadi pintu—tameng untuk melindungi domba dari serangan musuh. Kedekatan ini membuahkan kepekaan. Domba-domba mampu mengenali dan membedakan suara gembalanya. Jika gembala asing memanggil, mereka tak bereaksi.

Di sekitar kita ada banyak suara. Kadang sulit membedakan mana suara yang benar dan mana yang sesat; mana kehendak Tuhan, mana bukan kehendak Tuhan. Untuk melatih kepekaan, kita perlu membangun persekutuan dengan Tuhan melalui disiplin doa dan firman. Kalau kita ingin terus mengenali suara-Nya, jangan mengabaikan disiplin rohani ini


TANPA DOA DAN FIRMAN ANDA AKAN KEHILANGAN KEPEKAAN

Labels:

 
posted by Unknown at 5:15 AM, | 0 comments

Tanggung jawab pribadi

12/11/2008
Bacaan hari ini: 1 Samuel 24:1-14
Ayat mas hari ini: Mazmur 119:30
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tesalonika 1-3



Salah satu kejahatan paling berbahaya di dunia ini adalah mengabsahkan sebuah tindakan atas nama Tuhan. Termasuk jika tindakan itu memperdaya, melukai, meneror, atau bahkan menghabisi nyawa sesama. Orang suka menyembunyikan keinginan dan ambisi pribadinya di balik topeng “kehendak Tuhan” atau “perintah suci agama”, sambil menghalalkan cara-cara tak bermoral.

Kisah Daud di En-Gedi menerangi pemahaman kita. Kesempatan dan semua faktor pendukung begitu terbuka untuk menghentikan sumber ancaman bagi dirinya. Saat itu Saul sedang lengah. Dengan satu kali kibasan pedang, selesai! Tak ada penghalang. Daud benar-benar bebas melakukannya. Bahkan keyakinan imannya sendiri mengatakan, “Tuhan sekarang menyerahkan engkau ke dalam tanganku” (ayat 11). Artinya, jika Daud melakukannya pun, ia dapat membenarkan diri dengan alasan “Tuhan memang berkenan”. Tetapi, ia memilih untuk tidak melakukannya. Ia memilih untuk tidak mencemari tangannya dengan darah orang yang diurapi Tuhan.

Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk dengan kehendak-bebas, tetapi sekaligus juga dengan tanggung jawab yang menyertai. Jadi, jangan gampang-gampang mengatakan “ini kehendak Tuhan”. Sebab andaikan bagi kita tampaknya Tuhan memang menghendaki, karena kesempatannya begitu terbuka, keputusan untuk melakukannya atau tidak masih tetap ada di tangan kita. Pertimbangan dan keputusan moralnya ada di pundak kita. Tuhan tidak menghendaki kita melepaskan diri dari tanggung jawab pribadi atas keputusan moral kita. Apalagi dengan cara “melemparkan” tanggung jawab itu kepada-Nya, dengan dalih “Tuhan menghendaki”


JANGAN MENGGUNAKAN DALIH KEHENDAK TUHAN UNTUK MENGHINDARI TANGGUNG JAWAB PRIBADI KITA

Labels:

 
posted by Unknown at 6:31 AM, | 0 comments